Rabu, 29 Maret 2017
Epistemologi Tasawuf
EPISTEMOLOGI TASAWUF
Disampaikan pada mata kuliah Akhlak Tasawuf pada hari Kamis,30 maret 2017
Prodi Fisika Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Disusun Oleh :
Nama. : Irmawati Koto
Nim. : 0705163048
Epistemologi Tasawuf
1. Peran Hati dalam tasawuf
Dalam tradisi intelektual islam,hati ditempatkan sebagai salah satu sarana meraih ilmu.istilah hati disebut berulang kali dalam alquran dan hadis,yang biasanya disebut dengan kata qalb,alfu’ad,atau af’idah.term hati disebut dalam alquran dengan berbagai bentuk,antara lain,kata qalbun disebut sebanyak 6 kali,dan kata qulub disebut sebanyak 21 kali.kata al-fu’ad disebut sebanyak 3 kali,kaya fu’aduka disebut sebanyak 2 kali,kata af’idah disebut sebanyak 8 kali,dan kata af’idatuhum disebut sebanyak 3 kali.selain itu,dikenal istilah bashirah,yang berarti hati nurani,disebut dalam alquran sebanyak 2 kali.
Dalam tradisi islam,hati ( qalb ) merupakan subsistem jiwa manusia.disebutkan bahwa dari segi fungsi,menurut achmad mubaro,qalb berfungsi sebagai “alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan ( Q.S.al-A’raf/7:179 ),”sehingga qalb menjadi identik dengan akal.disebutkan bahwa ada delapan potensi hati,yakni hati itu bisa berpaling;merasa kecewa dan kesal;secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu;berprasangka;menolak sesuatu;mengingkari;dapat diuji;dapat ditundukkan;dapat diperluas dan dipersempit;bahkan bisa ditutup rapat.adapun kandungan hati manusia adalah penyakit ( Q.S.al-baqarah/2:10 );sedangkan kondisi hati manusia bermacam macam,sebagian bersifat positif seperti hati yang bersih(qalb salim),hati yang bertobat( qalb munib),hati yang tenang(qalb muthmain),hati yang menerima petunjuk(yahdi qalbih),dan hati yang takwa(taqwa al qulub).Islam menghendaki manusia mampu mencapai kualitas hati yang positif,dan menjauhi kualitas hati yang negatif.
Mayoritas sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah swt, dalam al-qur’an dijelaskan bahwa kelemahan akal bisa ditutupi oleh hati yang damai. Dalam Q.S al-Syu’ara’/26:89, telah disebutkan “ kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang damai”. Hati sebagai sarana untuk menemukan ilmu lebih banyak dibahas oleh kaum sufi dalam berbagai karya mereka. Al –Ghazali telah membahas hakikat hati dalam Ihya’’Ulum al-Din. Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati atau qalbu bermakna ganda, pertama hati adalah “daging yang diletakkan dalam dada sebelah kiri”. Dalam daging tersebut terdapat lubang , dan dalam lubang tersebut terdapat darah berwarna hitam yang menjadi sumber ruh. Hati semacam ini terdapat juga pada jasab binatang. Kedua, “sesuatu yang halus,bersifat ketuhanan bersifat(rabbaniyah), ruhani (ruhaniyah) dan memiliki kaitannya dengan ruh. Hati ini merupakan hakikat manusia. Akal adalah sifat ilmu yang terletak dihati, dan qalb berkaitan dengan ruhyakni tubuh yang halus dan sumbernya adalah lubang hati jasmani, lalu tersebar dengan perantara urat-urat yang merusak kebagian jasad lain”.
Jadi qalb terdiri dari dua bentuk yakni hati yang bersifat jasmani dan hati yang bersifat ruhani. Menurut Al-Ghazali hati dapat meraih ilmu mengenai banyak hal manakala ia memiliki ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah dan hikmah. Hati akan menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat-sifat ilahiah,cahaya iman(sebagai dampak dari zikir dan ibadah), dan hikmah, sehingga hati akan menjadi cermin yang bercahaya,cemerlang dan akhirnya hati akan meraih kasyf yang membuatnya dapat memeroleh kebenaran,bertemu Allah SWT, dan mampu menyingkap hakikat agama.Sebaliknya,ketika hati menjadi kotor akibat maksiat,maka hati menjadi hitam dan akibatnya akan terhijab dari Allah swt.Ketika hati seorang sufi dikuasai Allah sebagai dampak dari perilaku mereka dalam menekuni ibadah zuhud terhadap dunia maka allah akan menyingkapkan rahasia alam dan hakikat segala sesuatu kepada sufi tersebut.Menurut al-Ghazali,ada lima penyebab hati gagal meraih ilmu,yakni kekurangan hati(yakni hati anak kecil),hati menjadi kotor akibat mengikuti hawa nafsu sehingga selalu berbuat maksiat dan perbuatan keji,hati dipalingkan dari kebenaran karena tidak mau mencari kebenaran dan mengarahkan pikiran kepada hakikat illahiah,terhijab karena banyak taklid dan tunduk kepada prasangka,meskipun telah mampu mengekang hawa nafsu atau memfokuskan diri kepada kebenaran diri kepada kebenaran,dan kebodohan dalam mengetahui arah kebenaran akibat penyelewengan ilmu dan tidak mengetahui manfaat pencarian ilmu.Dapat disimpulkan,bahwa hati harus dihiasi oleh ibadah,dan dijauhi dari jebakan hawa nafsu,agar hati mampu meraih ilmu,menyaksikan dunia spriritual,dan menyingkap rahasia agama.
2. Metode Tazkiyah al-Nafs
Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipu relatif suksese memberikan gambaran rasional terhadap dunia spritual. Keabsahan tazkiyah al-nafs (metode irfani) diakui oleh kitab suci umat islam. Al-qur’an misalnya menegaskan para nabi bdan rasul diutus untuk menyucikan jiwa manusia. Adapun keutamaan tazkiyah al-nafs menurut al-qur’an bahwa pelakunya disebut orang-orang yang beruntung(Q.S. al-Syams/91:9; dan Q.S. al-A’la/87:14) dam orang tersebut diberi pahala serta keabadian surgawi (Q.S. Thaha/20:6).
Metode irfani merupakn metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktifitas penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, dan menilai bahwa ilmu ghakiki yang diraih dengan cara mendekakatkan diri dengan sosok yang Maha Mengetahui (al-alim), bukan dengan metode observasi ayau eksperimen atau juga metode rasional.
Mahzab tasawuf,menurut al-ghazali,dapat diwujudkan secara sempurna hanya melalui ilmu dan amal .Karya-karya para sufi menegaskan manusia terdiri atas badan dan jiwa(qalb).Baik badan maupun jiwa dapat menjadi sehat dan bahagia manakala kebutuhan keduanya dapat dipenuhi secara benar,dan menjadi sakit manakala kebutuhan keduanya tidak dipenuhi.Sebab itulah para sufi mengajarkan tentang usaha pemenuhan kebutuhan jiwa demi menghindari kehancurannya.Menurut al-Ghazali ,jiwa dan hati manusia menjadi rusak dan hancur jika manusia bersikap ateis(menolak dan tidak mengenal allah)dan mengikuti hawa nafsu,sedangkan hati menjadi sehat manakala mengenal Allah(ma’rifat).Sebagaimana ditegaskan bahwa tasawuf tidak hanya sekedar ilmu,melainkan amal,sehingga dasar pijakan kaum sufi adalah mengamalkan ajaran kaum sufi dengan uzlah,khalwah,riyadhaah,mujahadah,ibadah,dan zikr sebagai sarana paling tepat untuk mensucikan jiwa.Kaum sufi yang terbagi dalam berbagai mahzab tasawuf telah merumuskan beragam model ajaran tasawuf dalam rangka mencapai tujuan utama dalam mahzab tasawuf.
Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menyebut ilmu yang diraih oleh kaum sufi sebagai ilm laduniyun,yakni ilmu yang diisyaratkan kepada ilmu yang diperoleh seorang hamba tanpa menggunakan sarana,tetapi berdasarkan ilham dari allah,dan diperkenalkan Allah kepada hambanya .Ilmu ladunni merupakan buah dari ibadah,serta kepatuhan dan kebersamaan dengan allah,dan dicari dari kepatuhan kepada Rasulnya.Ilmu ladunni terdiri atas dua macam:dari sisi Allah dan dari sisi setan.Kaum sufi meraih ilmu dari sisi allah,sedangkan para dukun meraih ilmu dari setan.
Kesimpulan
Hati adalah hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, pengtahuan dan arif. Untuk mensucikan hati haruslah kita bebani dengan amal ibadah,dzikir,tasbih dan sebagainya, sesuai denganyang dianjurkan dalam alqur’an dan hadis.
Relevansi dengan bidang
Relevansi akhlak tasawuf dengan seorang fisikawan
Sebagai seorang fisikawan kita harus memiliki jiwa dan hati yang bersih, karena dengan hati yang bersih maka badan maupun jiwa kita menjadi sehat, dengan hati yang bersih kita juga akan mampu menemukan ilmu lebih banyak.
Daftar Pustaka
Abu al-Najib al-Suhrawardi,Adab al-muridin(Beriut:Daral-kutub al-ilmiyah,2005)
Abu bakar al-Kalabazi,al-Ta’aruf li Mazhab Ahl al-Tashawuf(Kairo:Dar Ihya al-Kutub al- Arabiyyah,1960)
Abu Hamid al-Ghazali,IHYA Ulum al-Din,Juz IV(Singapura:al Haramain,t.t)
Jafar,M.A.Gerbang Tasawuf .(Perdana Publising,2016)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar